'Junjong' Pinisi inspirasi uang kertas | Liputan 24 Kepulauan Riau
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

'Junjong' Pinisi inspirasi uang kertas

Posted by On 2:00 PM

'Junjong' Pinisi inspirasi uang kertas

Bintan (Antaranews Kepri) - Seni kerajinan tangan memiliki banyak rupa, satu di antaranya ialah mengolah bongkahan kayu menjadi suatu karya seni seperti miniatur kapal yang sering disebutJunjongoleh Masyarakat Tambelan, Kabupaten Bintan.
Di kecamatan Tambelan,Junjongyang memiliki nilai jual ekonomis itu kebanyakan dibuat dengan menggunakan kayu pelaik (Kayu Pulai). Alasannya, karena mudah untuk ditoreh dan kayu tersebut biasa digunakan untuk membuat perahu atauJukong(red: sebutan masyarakat Tambelan) yang menjadi sarana transportasi laut masyarakat.
Berbeda dengan jenis kayu lainnya, masyarakat Tambelan menggunakan satu balok kayu pelaik untuk membuat satu perahu. Sehingga, khusus perahu berbahan kayu pelaik tersebut, tidak memiliki sambungan papan seperti perahu pada umumnya.
Hanya saja, saat ini perahu dengan pahatan kayu pelaik tersebut sulit dijumpai lagi. Kemungkinan, dikarenakan sulitnya menemukan kayu pelaik yang berdiameter besar tersebut.
Meski demikian, ibarat kata pepatahTak ada rotan akar pun jadi,seni kerajinan olah kayu tidak sertamerta harus menggunakan kayu pelaik lagi, melainkan dapat juga menggunakan kayu dari pohon nangka.
Raju Aldiandi (23), pemuda asli Kalimantan Barat yang mengisi kelonggaran waktu santainya membuatJunjongdengan menggunakan kayu pohon nangka.
Raju mengatakan, awalnya hanya ikut-ikutan dalam membuatJunjong. Namun, karena tertarik melihat proses pengerjaannya, Raju pun mulai mengerjakan sendiri dengan inspirasi perahu bugis atau perahu pinisi dari uang kertas Rp100.
"Ide kawan-kawan memang bermacam-macam, ada yang membuat miniatur pompong, kapal pukat lengkong, dan sampan layar. Melihat semua itu saya berinisiatif dan harus tampil beda, oleh karena itu saya mengambil inspirasi dari perahu pinisi pada uang kertas Rp100," kata warga Desa Melayu tersebut kepada Antara, Selasa.
Dalam proses pembuatan perahu pinisi Raju meng aku menemukan banyak kesulitan, khususnya pada bagian anjungan dan buritan kapal.
"Bagi saya, bagian inilah yang paling sulit karena harus membagi dua belah sisi kapal sama besar. Dampaknya bila tidak simetris maka miniatur perahu pinisi ini tidak akan tampak seperti asli," ucapnya.
Selesai mengerjakan bagian bawah kapal, Raju di hadapkan lagi pada pembuatan bagian atas kapal yang tidak kalah sulit. Alasannya, selain masih amatir dalam pembuatannya, ia pun belum pernah melihat langsung pinisi.
"Terlebih alat yang digunakan juga tidak lengkap, sehingga perahu pinisi itu saya padukan dengan badan kapal lain yang memiliki struktur hampir mirip dengan pinisi," kata Raju.
Raju yang kesehariannya bekerja sebagai buruh kasar itu mampu menyelesaikan perahu pinisi dengan halus selama tiga hari.
Bahkan, ketika dipajang bersamaan dengan rentetanJunjongyang lain saat kunjungan Bupati Bintan Apri Sujadi dan Wakil Bupati Bintan Dalmasri Syam beserta rombong an (20/4) lalu, miniatur pinisi yang dijual Raju seharga Rp400 ribu dibeli dengan harga yang sama oleh Ketua PKK Kabupaten Bintan Deby Maryanti.
Mengetahui hal tersebut, Raju mengucapkan rasa syukur, bahkan Raju berniat untuk membuat miniatur perahu dengan sentuhan lebih halus dan lebih nyata lagi.
"Saya akan membuat miniatur kapal lebih baik lagi dan lebih banyak lagi, dan saya juga berharap miniatur perahu saya ke depan lebih rapi dan lengkap serta menyerupai aslinya," tuturnya optimis. (Antara)Sumber: Berita Kepulauan Riau

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »